Showing posts with label Artikel Islam. Show all posts

Keajaiban Lafaz Basmalah Dalam Menyembelih Hewan


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. AL-An’aam: 118) 

Sebuah tim dari para peneliti senior dan Profesor universitas di negeri Suriah sampai pada suatu penemuan ilmiah yang menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam hal perkembangbiakan mikroba antara daging yang dibacakan takbir ketika disembelih dengan daging yang tidak dibacakan.

Tim medis yang terdiri dari 30 Profesor spesialis di berbagai bidang yang berbeda dalam ilmu kedokteran laboratorium, bakteri, virus, dan ilmu pengetahuan gizi dan kesehatan daging dan patologi anatomi, kesehatan hewan dan penyakit pada sistem pencernaan melakukan penelitian biologi dan anatomi selama tiga tahun. Penelitian itu untuk mempelajari perbedaan antara sembelihan yang dibacakan nama Allah (Bismillah) dan membandingkannya dengan sembelihan yang disembelih dengan cara yang sama, akan tetapi tanpa menyebut nama Allah (Bismillah).

Dan penelitian tersebut telah menunjukkan pentingnya dan perlunya menyebutkan nama Allah (Bismillahi Allahu Akbar) ketika menyembelih binatang ternak dan burung. Dan hasil penelitian itu sungguh mengejutkan dan mengherankan dan yang digambarkan oleh anggota tim medis sebagai sebuah Mukjizat (keajaiban) yang tidak bisa digambarkan dan dikhayalkan. Penanggung jawab Humas dari penelitian ini yaitu Dr.Khalid Halawah berkata bahwa uji coba laboratorium membuktikan bahwa serat daging yang disembelih tanpa Bismillah dan Takbir selama tes uji serat dan perkembangbiakan bakteri ini penuh dengan kuman dan darah yang tertahan dalam daging, sementara daging yang disembelih dengan Bismillah dan Takbir benar-benar bebas dari bakteri dan steril tidak mengandung darah yang tersisa/tertahan. Dan Halawah mendeskripsikan dalam pembicaraannya kepada kantor berita Kuwait (KUNA) bahwa penemuan ini merupakan revolusi ilmiah besar di bidang kesehatan manusia dan keselamatannya yang terkait dengan kesehatan apa uang dia konsumsi berupa daging binatang ternak. Dan yang telah terbukti dengan secara pasti bahwa daging tersebut bersih dan steril dari kuman dengan membacakan Bismillah dan Takbir ketika menyembelihnuya.

Sementara itu, kata peneliti Abdul Qadir al-Dirani bahwa ketidaktahuan orang-orang di zaman kita terhadap Hikmah yang tersembunyi di balik penyebutan Bismillah ketika menyembelih menyebabkan manusia mengabaikan dan enggan untuk menyebutkan Bismillah dan Takbir ketika melakukan penyembelihan binatang ternak dan burung. Dia berkata:"Yang mendorong saya untuk mempersembahkan tema/pembahasan ini dalam gaya bahasa akademi yang ilmiah, yang membangun arti penting dan keseriusan persoalan ini masyarakat, adalah berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Profesor Muhammad Amin Syaikhu dalam kajian beliau tentang al-Quran dan apa yang beliau sampaikan dan kami dengar bahwa daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah (Bismillah) maka di dalamnya ada darah yang tersisa/tertahan serta tidak terbebas dari bakteri dan kuman.”

Dia Yang Mahamulia berfirman:

وَلاَتَأْكُلُواْمِمَّا لَمْيُذْكَرِ اسْمُاللّهِعَلَيْهِوَإِنَّهُلَفِسْقٌ وَإِنَّالشَّيَاطِينَلَيُوحُونَإِلَى أَوْلِيَآئِهِمْلِيُجَادِلُوكُمْوَإِنْأَطَعْتُمُوهُمْإِنَّكُمْلَمُشْرِكُونَ

" Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. “ (QS. Al-An’aam: 121)

Dia juga berfirman:

وَقَالُواْهَذِهِأَنْعَامٌوَحَرْثٌ حِجْرٌلاَّيَطْعَمُهَاإِلاَّ مَننّشَاء بِزَعْمِهِمْوَأَنْعَامٌحُرِّمَتْظُهُورُهَاوَأَنْعَامٌلاَّيَذْكُرُونَاسْمَاللّهِعَلَيْهَاافْتِرَاءعَلَيْهِ سَيَجْزِيهِمبِمَاكَانُواْيَفْتَرُونَ

" Dan mereka mengatakan:` Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki `–menurut anggapan mereka–dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya, dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan “ (QS. Al-An’aam: 138)

Kisah Hikmah Dari Buah Tembikai


Pada suatu hari, seorang ahli sufi yang masyhur bernama Syaqiq Al-Balkhir telah membeli sebiji tembikai. Kemudian dia membawa tembikai itu pulang dan diberikan kepada isterinya. Apabila isterinya membelah tembikai itu untuk dimakan, ternyata buah tembikai itu tidak elok, maka marah-marahlah isteri Syaqiq dengan keadaan tersebut.

Maka bertanyalah Syaqiq kepada isterinya : “Kepada siapa engkau tujukan marahmu itu, adakah kepada penjual, pembeli, penanam atau Pencipta buah tembikai itu ?.” Terdiam isterinya mendengar pertanyaan tersebut.

Kemudian Syaqiq teruskan lagi kata-katanya : “Ada pun si penjual, sudah tentu mahu jualannya terdiri daripada barangan yang terbaik. Adapun si pembeli juga sudah tentu mahu membeli barang yang terbaik juga. Bahkan si penanam juga sudah tentu berharap hasil tanamannya yang terbaik juga. Maka ternyatalah marahmu ini engkau tujukan kepada Pencipta buah tembikai ini. Maka bertaqwalah engkau kepada Allah dan redhalah dengan segala ketentuan-Nya.”

Maka menangislah isteri Syaqiq. Lalu bertaubat dan ia pun redhalah dengan apa yang telah di tentukan oleh Allah SWT.


Ini Dia Nama-Nama Syaitan Beserta Tugasnya

Didalam Islam, nama syaitan erat kaitannya dengan perbuatan buruk. Syaitan merupakan golongan iblis yang memiliki tugas dan ambisi untuk menjerumuskan sebanyak-banyaknya umat manusia supaya dapat menjadi pengikut sekaligus teman di neraka kelak.

Allah SWT berfirman dalam surat Yasiin

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Yaasin: 60)

Nah, berikut ini nama-nama Syaitan yang dikenal dalam Islam yang bersumber dari hadist. Syaitan-syatan tersebut memiliki tugas yang berbeda. Umar bin Khaththab berkata : anak keturunan setan itu ada sembilan, yaitu Zalitun, Watsin, Laqus, A’wan, Haffaf, Murrah, Masuth, Dasim, dan Walhan.”

1. Laqnis dan Walhan adalah syaitan yang menggoda dan membisiki orang yang berwudhu.

2. Khanzab adalah syaitan pengganggu orang sholat.
Nabi SAW bersabda:
“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan bunyi kentutnya sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai diapun akan kembali menggoda. Ketika iqamah dikumandangkan setanpun akan lari hingga usai iqamah setan akan mendatangi orang yang shalat lalu membisikkan ke hati seseorang sembari berkata: ‘Ingat ini..ingat itu..’ Setan mengingatkan apa-apa yang telah dia lupakan hingga seseorang tidak mengetahui berapa rekaat yang telah ia kerjakan.” (HR. al-Bukhari)

3. Zalanbur/ Zalitun adalah Syaitan yang menggoda di pasar yang menghiasi hal yang sia-sia, sumpah, dusta dan memuji barang dagangannya.

4. Bathar adalah nama syaitan yang menggoda orang yang tertimpa musibah, membisikinya supaya mencakar wajah, memukul pipi, dan merobek kantong bajunya sendiri.

5. Al-’Awar adalah syaitan penggoda orang yang berzinah dengan menyebarkannya di kelamin laki-laki dan ketuaan pada perempuan.

6. Mathus/Masuth adalah Syaitan penyebar berita fitnah.

7. Dasim adalah syaitan yang mengganggu keluarga dan rumah.

8. Abyadh adalah syaitan yang paling buruk dan kuat dalam menggoda para nabi.

9.Setan Haffaf adalah setan yang bertugas membujuk dan menggoda orang untuk meneguk minuman keras.

Ubay bin Kaab meriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw, bahwasanya Beliau bersabda: “Sesungguhnya wudhu itu ada syaitannya yang bernama Walhan. Maka takutlah kalian semua dari sifat was-was pada air!”. (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Muslim meriwayatkan dari Ustman bin Abi Al-Ash. Dia berkata: “Ya Rasulullah, syaitan telah menghalangi antara diriku dan sholatku dan tanda-tanda yang ia kenakan padaku.” Rasulullah Saw bersabda: “Itu adalah syaitan yang disebut Khanzab. Maka bila engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya, dan meludah kecilah ke sebelah kirimu tiga kali.’ Maka aku melakukan itu dan Allah menghilangkannya dariku.” (Hadits Riwayat Muslim).

Mujahid berkata: “Di antara keturunan syaitan adalah Laqnis dan Walhan, keduanya menggoda orang yang bersuci dan sholat. Keduanya digelari dengan Al-Hafaf dan Murrah. Zalanbur, Syaitan yang menggoda di pasar yang menghiasi hal yang sia-sia, sumpah, dusta dan memuji barang dagangannya. Bathar adalah nama syaitan yang menggoda orang yang tertimpa musibah, membisikinya supaya mencakar wajah, memukul pipi, dan merobek kantong bajunya sendiri. Al-’Awar adalah syaitan penggoda orang yang berzinah dengan menyebarkannya di kelamin laki-laki dan ketuaan pada perempuan!”.

Mathus, syaitan pemilik berita dusta yang disebarkan melalui mulut-mulut manusia yang tidak ada sumbernya. Dasim, yakni bila seorang memasuki rumah tanpa mengucapkan salam dan tidak mengingat Allah, maka dia dapat melihat harta kekayaan seseorang selama belum di angkat atau diperbaiki tempatnya. Bila seseorang makan dan tidak membaca basmallah, maka dia akan makan bersamanya.

Al-’Amasy berkata: “Ketika aku masuk ke dalam rumah dan tidak menyebut nama Allah, serta tidak bersalam aku melihat api. Aku berkata,’Angkatlah’, dan aku berbantahan dengannya. Kemudian aku ingat dan berkata, ‘Dasim, Dasim, Aku berlindung kepada Allah SWT darinya’!”.

Sumber: Hikaya Ash-Shufiyyah, Muhammad Abu Al-Yusr ‘Abidin.

Ayah,, Lebih Berharga Dirimu Dari Uang Itu

Salah satu da’i berkata, “Ada seorang laki-laki memiliki hutang, dan pada suatu hari datanglah kepadanya pemilik hutang, kemudian mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu mendorong masuk tanpa salam dan penghormatan, lalu memegang kerah baju pemilik rumah seraya berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu, sungguh aku telah bersabar lebih dari seharusnya, kesabaranku sekarang telah habis, sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu hai laki-laki?!

Pada saat itulah sang anak ikut campur, sementara air mata mengalir dari kedua matanya saat dia melihat ayahandanya ada pada kondisi terhina seperti itu.
Dia berkata,”Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?’
Dia menjawab,”Tujuh puluh ribu real.”

Berkata sang anak,”Lepaskan ayahku, tenanglah, bergembiralah, semua akan beres.”
Lalu masuklah sang anak kekamarnya, dimana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu Real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Akan tetapi dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu di lemari pakaiannya. Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik hutang, “Ini pembayaran dari hutang ayahku, nilainya 27 ribu Real, nanti akan datang rizki, dan akan kami lunasi sisanya segera dalam waktu dekat Insya Allah.”

Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.

Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu, segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi, seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”

Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesegukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”
Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melaksanakan tugas pekerjaannya, salah seorang sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya datang menziarahinya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabat tadi bertanya,

“Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”

Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata,
“Mudah-mudahan ini adalah do’a ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya.”
Maka dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla. Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata,
“Inilah laki-laki yang tengah kucari.”

Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu?”
Dia menjawab, “Mendekati 5 ribu Real.”
Dia berkata, “Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu, gajimu 15 ribu Real, bonus 10% dari laba, dua kali gaji sebagai tempat dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu.”

Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah wahai ayahku.”
Manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Maka pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Maka manajer itu pun memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Adalah hasil dari labanya pada tahun pertama, tidak kurang dari setengah milyar Real Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar, dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung.

Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]

Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]

Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.

Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.

Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam

*Kiriman dari Dr.Taufiq Ibn Muhammad Ibrahim, Madinah al-Munawwarah.Jazahullahu ‘anna khairan 

Sumber : Diketik ulang dari Majalah Qiblati Edisi 3, Tahun V, 12-1430/12-2009, Hal.92-95

Tatkala Penjaga Arasy Lupa Bertasbih dan Bertahmid


Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Ka'bah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Ka'bah kemudian menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu merasa dirinya di perolok-olokkan oleh orang dibelakangnya, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnyalah seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW. “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu kelak di akhirat.” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, serasa tak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Benarkah Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, serta akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badui itu berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran tangisan Nabi itu Malaikat Jibril turun kembali seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badui itu, tatkala mendengar berita itu. Ia pun menangis karena tidak berdaya menahan rasa haru. 

‘Izrail : Nama Malaikat Yang Tidak Wajib Diimani

Ilustrasi
(Gambar  Diculik Dari Google)
Selama ini kita mengetahui bahwa nama malaikat maut alias malaikat pencabut nyawa adalah ‘Izrail. Bahkan, nama ‘Izrail telah ditetapkan dalam jajaran 10 malaikat yang wajib diketahui dan diimani oleh umat muslim.

Namun setelah ditelusuri, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadist shahih, ternyata tidak ditemukan tulisan yang menyatakan bahwa nama malaikat maut adalah ‘Izrail, sebagaimana nama kesembilan malaikat lainnya yang secara jelas tertulis.

Sudah masyhur bahwa nama malaikat maut adalah ‘Izrail. Hanya saja, penamaan ini tidak didapatkan keterangan yang jelas dalam Al-Qur’an Al-Karim dan tidak pula dalam sunnah nabi yang shahih. Keterangan tersebut didapatkan dalam sebagian atsar yang terindikasikan sebagai bagian dari riwayat-riwayat Israiliyat.

Atas dasar ini, tidak diperbolehkan untuk menafikan dan menetapkan secara pasti. Karenanya, kita tidak boleh menetapkan dan meyakini dengan pasti bahwa nama malaikat maut (pencabut nyawa) adalah ‘Izrail. Namun, kita juga tidak boleh meniadakan (atau mengingkari)-nya dengan penuh kepastian. Tapi kita serahkan hakikatnya kepada Allah Ta’ala, lalu kita menamakannya dengan nama yang telah Allah sandangkan untuknya, yaitu “malakul maut.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Sajdah: 11)

Imam Ibnu katsir rahimahullaah berkata dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (1/49), “Adapun malaikat maut, tidak didapatkan keterangan jelas tentang namanya di dalam Al-Qur’an, tidak pula dalam Hadist shahih. Penamaannya terdapat dalam sebagian atsar yang disebut dengan 'Izrail, wallahu a’lam.”

Allah Ta’ala telah berfirman, “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Sajdah: 11)
Imam Al-sindi berkata, “Tidak ada hadist marfu’ yang menyebutkan namanya.”

Al-Munawi dalam al-Faidh al-Qadir (3/32)  setelah menyebutkan bahwa malaikat maut yang namanya masyhur dengan 'Izrail berkata, “Aku tidak mendapatkan penamaan itu dalam khabar (Hadist).”

Syaikh Al-Albani dalam ta’liqnya terhadap perkataan Imam Al-Thahawi, “Dan kita mengimani malaikat maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa alam semesta,” beliau rahimahullaah, “Aku katakan: ini adalah namanya (yang disebutkan) dalam Al-Qur’an. Sedangkan menamakannya dengan 'Izrail, sebagaimana yang tersebut di tengah-tengah manusia, tidak memiliki landasan (dasar). Sesungguhnya penamaan tersebut berasal dari riwayat-riwayat Israiliyat.”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Malakul maut (malaikat pencabut nyawa) telah masyhur namanya dangan 'Izrail, tapi itu tidak benar. Sesungguhnya nama ini disebutkan dalam riwayat-riwayat Israiliyat yang tidak mengharuskan kita untuk mengimani nama ini. karenanya kita menamakan malaikat yang ditugaskan mencabut nyawa dengan “Malakul maut”, sebagaimana yang Allah 'Azza wa Jalla telah menamakannya dalam firman-Nya,

“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Fatwa Ibnu al-Utsaimin: 3/161) wallahu a’lam.

Nasehat & Teguran Dalam Islam

[1] Istighfar Palsu
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal. 69)

[2] Niat Menimba Ilmu
Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71)

[3] Guru Terbaik
Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya, “Kepada siapakah aku duduk/berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasehatimu dengan ucapannya semata.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71-72)

[4] Rusaknya Hati
Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata: Suatu saat aku mendengar al-Junaid ditanya mengenai hati; faktor apa yang merusak hati seorang pemuda? Maka beliau menjawab, “Rasa tamak/hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?”. Beliau menjawab, “Sikap wara’/menjaga diri dari yang diharamkan.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 72)

[5] Kenali Dirimu!
Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai orang yang riya’!”. Maka beliau menjawab, “Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 93)

[6] Antara Wajah dan Perbuatan
Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 105)

[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa
Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?”. Dia menjawab, “Iya.” Ahli ibadah itu pun berkata, “Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?”. Dia menjawab, “Iya.” Lalu ahli ibadah itu berpesan, “Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla benar-benar telah menghapus dosa itu darimu.” (al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 124)

[8] Kiat Menghafal Hadits
Waki’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah hadits itu.” (lihat mukadimah az-Zuhd karya Imam Waki’, hal. 91)
Waki’ rahimahullah juga berpesan, “Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.” (mukadimah az-Zuhd, hal. 91)

[9] Nikmat dan Adzab
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48)

[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan/kritikan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 51)

[11] Pembersihan Dosa
Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu sholat maka dia mengatakan -kepada teman-temannya-: “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadats.”.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 53)

[12] Hakikat Syukur
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65)

[13] Godaan Perempuan
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 67)

[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja
Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi rahimahullah berkata: Dahulu kami belajar kepada Sufyan ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, “Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?”. Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 69-10)

[15] Jangan Sebarkan Kekejian!
Khalid bin Ma’dan rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk “Orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.” (QS. an-Nuur: 19).” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 71)

[16] Sambutan Yang Indah
Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 81)

[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!
Yahya bin Khalid al-Barmaki rahimahullah berkata kepada anaknya, “Dahulu mereka -pendahulu yang salih- mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 126)

[18] Bukan Amal Biasa-Biasa
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’/menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 133)

[19] Apalah Artinya Dunia
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)

[20] Puncak Syukur
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)